IIPG Lamteng Tak Mau UMKM Berhenti di Produksi, Gandeng Teknokrat Kuasai Pasar Digital

Uncategorized29 Dilihat

Ceritaseputarlamteng.com, LAMPUNG TENGAH – Ikatan Istri Partai Golkar (IIPG) Lampung Tengah terus memperluas langkah pemberdayaan perempuan, khususnya para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Tidak hanya mendorong perempuan mampu memproduksi sebuah produk, IIPG kini mulai fokus pada bagaimana produk tersebut bisa dipasarkan lebih luas dan memiliki nilai jual yang semakin tinggi.

Langkah itu ditandai dengan pertemuan Ketua IIPG Lampung Tengah, drg. Yuniar Musa Ahmad, bersama Universitas Teknokrat Indonesia. Pertemuan yang berlangsung di Universitas Teknokrat Indonesia tersebut diterima langsung oleh Wakil Rektor III, Auliya Rahman Isnain, Senin (5/10/2026)

Dalam pertemuan tersebut, IIPG Lampung Tengah membahas rencana kerja sama pelatihan bagi perempuan pelaku UMKM di Lampung Tengah. Program yang direncanakan mulai dilaksanakan pada November 2026 itu akan membekali peserta dengan sejumlah kemampuan yang dinilai penting untuk menghadapi persaingan usaha di era digital.

Materi pelatihan nantinya mencakup digital marketing, administrasi dan pengelolaan keuangan, hingga affiliate marketing (afiliator). Selain itu, peserta juga akan diarahkan memahami pentingnya branding dan labeling produk agar hasil usaha mereka tidak sekadar menjadi produk rumahan, tetapi memiliki identitas dan daya saing yang lebih kuat.

Ketua IIPG Lampung Tengah drg. Yuniar Musa Ahmad mengatakan, pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya berhenti pada kemampuan membuat sebuah produk.

Menurutnya, banyak pelaku UMKM yang sebenarnya memiliki produk bagus, namun masih menghadapi kendala ketika harus memperkenalkan dan menjual produknya kepada pasar yang lebih luas.

“Jangan sampai kita hanya mengajarkan bagaimana membuat produknya, tetapi setelah produk jadi, mereka bingung mau dijual ke mana dan bagaimana cara memasarkannya. Karena itu, kita ingin memberikan keterampilan yang lebih lengkap, mulai dari produksi, branding, pengemasan, pemasaran digital sampai pengelolaan keuangan,” ujar Yuniar.

Ia menilai perkembangan teknologi digital harus menjadi peluang bagi perempuan Lampung Tengah untuk memperluas pasar. Produk UMKM yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar, menurutnya, harus didorong agar mampu menjangkau konsumen di luar daerah bahkan berpeluang masuk pasar yang lebih luas.

“Sekarang pasar tidak lagi terbatas pada lingkungan tempat kita tinggal. Dengan digital marketing, produk dari Lampung Tengah bisa diperkenalkan kepada masyarakat di berbagai daerah. Ini yang ingin kita dorong,” katanya.

Yuniar juga menekankan pentingnya branding dan labeling. Sebab, kualitas produk saja tidak selalu cukup untuk memenangkan persaingan. Produk juga membutuhkan identitas, kemasan yang menarik, informasi yang jelas serta strategi pemasaran yang tepat.

“UMKM harus naik kelas. Kita ingin ibu-ibu tidak hanya bisa menghasilkan produk, tetapi juga memahami bagaimana membuat produk itu terlihat profesional, memiliki branding, memiliki label, kemudian mampu menjualnya secara konsisten,” jelasnya.

Menurut dia, kerja sama dengan perguruan tinggi menjadi salah satu langkah strategis karena pelatihan nantinya diharapkan tidak sekadar memberikan teori, tetapi juga pengetahuan yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM.

Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Teknokrat Indonesia, Auliya Rahman Isnain, menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Ia menilai kolaborasi antara IIPG Lampung Tengah dan perguruan tinggi dapat memberikan manfaat nyata, terutama dalam meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan.

“Kami sangat senang bisa ikut terlibat dalam kerja sama ini. Mudah-mudahan apa yang nantinya diberikan dalam pelatihan benar-benar dapat bermanfaat dan bisa diterapkan oleh para peserta,” ujar Auliya.

Ia mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran untuk ikut memberikan kontribusi kepada masyarakat, tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui kegiatan yang dapat meningkatkan keterampilan dan kapasitas masyarakat.

Karena itu, Auliya berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan pelatihan saja. Ke depan, kolaborasi dapat terus dikembangkan dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat dan penguatan UMKM.

“Kami berharap kerja sama ini bisa berkelanjutan. Bukan hanya sekadar pelatihan, tetapi ada dampak yang bisa dirasakan dan dikembangkan oleh para peserta ke depannya,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *